My friend

Sabtu, 16 Mei 2009

Kumpulan Cerpen

. Sabtu, 16 Mei 2009

Kumpulan Cerpen

RUMAH KECIL DI BUKIT SUNYI

Di atas bangku bambu yang reyot, pak Kerto menjelujurkan kedua kakinya. Sebentar-sebentar tangannya mengurut-urut kedua kakinya yang kurus kering itu. Tak lama kemudian ia beranjak dari bangku kemudian melangkah ke bilik belakang yang hanya dibatasi dengan rajutan daun rumbia. Lalu diambilnya beberapa potong ubi dari sebuah panci dan diletakannya di atas selembar daun pisang yang sudah agak mengering. Kemudian melangkah balik ke depan dan duduk di bangku bambu itu kembali.

Dinikmatinya perlahan sepotong demi sepotong ubi rebus, diteguknya pula sisa kopi di gelas untuk melancarkan jalannya kunyahan ubi itu di tenggorokan. Gelas itu belum sempat diletakan, sisa sedikit kopi diteguknya kembali hingga tandas. Setelah itu gelas diletakan di bawah bangku, kemudian diambilnya puntung rokok yang terselip di sela-sela telinganya. Disulut dan dihisapnya kuat-kuat, asapnya dihembuskan perlahan-lahan. Nikmat sekali nampaknya.

Pintu tiba-tiba berderak dibuka seseorang dan disusul munculnya lelaki berperawakan pendek dengan perut yang gendut.

“Ooo….juragan. Silakan gan”, sambut pak Kerto sambil membungkuk-bungkuk. Dan dengan tergesa dibersihkannya bangku bambu yang sudah reyot itu. Masih dengan membungkuk hormatpak Kerto mempersilakan lelaki gendut itu yang dipanggilnya juragan untuk duduk di bangku.

“Bagaimana? Apakah semuanya sudah beres?” tanya sang juragan dengan mimik serius. Matanya sesekali memandang rumah kecil itu.

“Sebagian sudah saya panen, gan. Dan yang belum sisa ladang sebelah kanan parit. Silakan juragan periksa hasil panenan itu”.

“Dimana kau letakan, Kerto?”

“Ada di samping rumah, gan. Semuanya berjumlah enam karung terigu. Bagus-bagus hasil panenan kali ini”, kata pak Kerto sambil membuang sisa rokoknya yang sudah mati. Kemudian juragan itu beranjak dari bangku dan keluar diikuti pak Kerto. Kedua orang itu melangkah menuju samping rumah. Dan sang juragan segera mendekati tumpukan karung. Sesaat, dibukanya salah satu karung dan diambilnya sehelai daun yang ada di dalamnya, kemudian sehelai daun itu diciumnya.

“Ahhh, luar biasa!” teriaknya kegirangan. “Bagus…bagus sekali panenan kali ini, Kerto”, lanjut juragan itu sambil menepuk-nepuk punggung pak Kerto. Dan pak Kerto hanya mengangguk-angguk pelan. Dalam hati pak Kerto ada rasa bahagia karena bisa membuat juragan senang yang berarti ia nanti akan mendapat tambahan upah. Watak juragan memang begitu, kalau sedang senang ia tak segan-segan memberinya tambahan upah. Tapi kalau sebaliknya, berkata pun tidak, apalagi tambahan upah, kata pak Kerto dalam hatinya.

“Enam karung ini disimpan yang baik dan jangan sampai kena hujan. Dua hari lagi aku akan kembali ke sini mengambil semua hasil panenan”, ucap juragan sambil berkecak pinggang.

“Baik, gan”.

“Jangan lupa, simpan karung-karung ini baik-baik”.

“Akan saya laksanakan, gan”, jawab pak Kerto lirih sambil membungkuk-bungkuk.

Sementara matahari berangsur tenggelam dan juragan yang gendut itu menuruni perbukitan, meninggalkan pak Kerto yang masih termangu-mangu diterpa semilir angin senja. Tubuh pak Kerto yang kurus itu masih saja tegak berdiri mematung memandangi juragannya yang terseok-seok jalan di pematang sawah.

Suara serangga bersahut-sahutan mewarnai malam yang dingin. Pak Kerto berbaring di bangku bambu yang reyot itu sambil berselimut selembar sarung. Ia tak dapat tidur, padahal matanya sudah terasa berat oleh kantuk yang menggelantunginya. Sebentar kemudian diperbaiki letak sarungnya untuk menghalau dingin. Kedua telapak tangannya diletakan di bawah kepalanya sebagai alas pengganti bantal. Sementara lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan semakin redup. Barangkali habis minyaknya, pikir pak Kerto.

Matanya belum juga bisa dipejamkan. Ditariknya nafas dalam-dalam. Pikirannya tertuju pada pohon-pohon kecil di ladang sebelah kanan parit yang besok harus dipanen. Ia sebenarnya tak habis berpikir, untuk apa juragan menanam pohon-pohon itu. Ia sendiri tak tahu, apa nama pohon yang bentuknya hampir mirip tanaman cabai. Dan ia hanya tunduk pada segala perintah juragannya lalu mendapatkan upah. Ya, hanya itu saja yang pak Kerto lakukan. Sementara pak Kerto sendiri dilarang bergaul dengan orang-orang di sekitar perbukitan. Itu Perintah juragan dan harus dipatuhi. Pak Kerto sendiri kalau pulang ke kampungnya paling cepat empat bulan sekali. Itu kalau musim panen tiba dan ia harus pulang bersama juragan yang membawa semua hasil panenan menuju kota. Juragan memang selama ini selalu baik, itu saja yang ia ketahui. Setiap pulang ke kampung, juragan selalu membekalinya beberapa potong pakaian, susu kaleng, roti kalengan, selain upah yang rutin ia terima.

Sejauh ini pak Kerto belum tahu, jenis apa dan untuk apa pohon-pohon itu ditanam. Ah, kenapa aku harus memikirkannya?, desah pak Kerto lirih. Sementara di luar gemersik dedaunan bergesekan dihembus angin malam perbukitan. Senandung serangga malam sisa satu dua yang terdengar dan mulai ditingkahi suara kokok ayam satu-satu bersahutan di kejauhan.

Pak Kerto baru saja selesai melipat sarungnya yang agak kumal. Sebentar-sebentar ditariknya nafas dalam-dalam. Kini tinggal melipat kaos oblong yang berwarna hijau pudar itu. Tak lama lagi pasti juragan akan datang lalu aku akan ikut serta dengan juragan ke kota, katanya dalam hati. Selintas dipandanginya tumpukan karung terigu. Semuanya berjumlah sebelas karung. Kemarin pak Kerto memanen ladang sebelah kanan parit dan mendapat lima karung terigu penuh. Pak Kerto tertegun sejenak, rambutnya yang agak memutih diusapnya perlahan. Tinggal apalagi yang harus dikemas, pikirnya. Kedua matanya memandangi seputar ruangan itu, tapi ia tak menemukan sesuatu yang mesti dibawa pulang.

Disandarkannya tubuh yang kurus itu ke tumpukan karung di sampingnya. Pikirannya menerawang jauh ke kampung halamannya. Sedang apa istri dan kedua anakku sekarang ya…?, tanyanya dalam hati. Sesampainya di kota nanti pak Kerto ingin membelikan kain kebaya buat istrinya, juga dua sandal plastik buat kedua anaknya. Dan bibir pak Kerto yang hitam dan kering itu berdecah-decah kemudian tersenyum-senyum sendiri. Rasa hatinya bahagia sekali karena sebentar nanti akan segera bisa melepas kerinduan pada istri dan kedua anaknya, setelah empat bulan lebih berpisah.

Pak Kerto kemudian bangkit dan berjalan menuju bilik belakang. Diambilnya sisa kopi yang tinggal seperempat gelas lalu diminumnya hingga tandas. Belum juga ia sempat meletakan gelasnya, tiba-tiba ada terdengar suara orang mengetuk pintu. Ahh.., juragan datang, kata pak Kerto lirih penuh kegembiraan. Ia segera meletakan gelasnya dan dengan langkah yang tergesa pak Kerto menuju ke bilik depan.

“Sebentar gan, sebentar…”, kata pak Kerto girang sambil membuka palang pintu. “Biasanya kan langsung masuk, gan”, lanjutnya sambil menguak daun pintu.

Dan pak Kerto merasa seluruh aliran darahnya terhenti ketika di depannya berdiri empat orang polisi dengan senjata di tangan.

“Jangan bergerak!”, gertak salah seorang polisi. Sedangkan ketiga polisi lainnya langsung masuk rumah kecil itu. Pak Kerto sendiri berdiri kaku, mematung, tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Maaf, bapak saya tangkap”, kata polisi yang habis menggertak tadi sambil mendekat dan memborgol kedua tangan pak Kerto. Dan pak Kerto semakin bertambah bingung.

“Apa kesalahan saya, pak?” tanya pak Kerto terputus-putus.

“Bapak telah menanam dan menyimpan pohon ganja, padahal pohon-pohon ganja ini dilarang ditanam oleh pemerintah”, jawab polisi itu tegas.

“Tapi saya hanya disuruh juragan. Saya hanya melaksanakan perintah juragan, pak”, kata pak Kerto tertunduk.

“Saya mengerti dan memahami keadaan bapak. Juragan bapak sekarang ada di tahanan polisi”.

Polisi itu kemudian menyuruh pak Kerto berjalan menuruni lereng perbukitan. Sedang ketiga polisi lainnya memanggul beberapa karung terigu yang berisi daun ganja dengan dibantu beberapa peladang yang kebetulan berada di sekitar perbukitan itu.

Pak Kerto tertunduk menuruni lereng perbukitan. Inilah jawaban atas teka-teki tanaman itu, batin pak Kerto. Ya, dua tahun lebih baru terjawab sekarang, batinnya lagi dalam hatinya. Tak terasa pipi keriput lelaki tua itu sudah basah oleh air mata. Sementara rumah kecil di atas bukit semakin jauh ditinggalkan. Tuhan, jerit pak Kerto lirih.

Purbalingga, 1982

TOPI

Sudah dua hari ini aku melihat lelaki yang bertopi itu duduk sendirian di depan sebuah toko di perempatan jalan. Tapi anehnya ia selalu melakukannya di malam hari. Dan apabila pagi atau siang hari ia tak nampak di depan toko itu. Aku sebagai warga kampung yang rumahnya terdekat dengan toko itu sudah selayaknya memiliki rasa curiga dan berusaha mengikuti gerak-gerik lelaki itu.

Malam berikutnya kembali aku melihat lelaki bertopi itu duduk sendiri di depan toko. Sesekali ia menundukan wajahnya dan sesekali pula ia memandangi beberapa mobil dan motor yang lewat. Dari kejauhan kuikuti gerak-gerik lelaki yang mencurigakan itu. Sebenarnya aku sendiri berkeinginan untuk dapat mendekati lelaki itu. Basa-basi atau sekedar berbicara ringan. Siapa tahu ia dalam kesusahan mencari alamat keluarganya di sekitar kampung ini. Atau mungkin siapa tahu dia betul-betul ingin mencuri toko itu. Atau mungkin? Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul dan mengisi penuh pikiranku.

“Maaf, boleh saya duduk di sini?” Tanyaku pada lelaki yang bertopi itu ketika ia akan menyulut rokoknya.

“Silakan”, jawabnya acuh sambil mematikan api koreknya.

“Terima kasih”, kataku berusaha sesopan mungkin sambil duduk di sebelahnya. Kulirik lelaki itu diam termangu sambil mempermainkan asap-asap rokoknya. Ia nampaknya tidak mempedulikan kedatanganku di sisinya.

“Barangkali sedang menunggu seorang teman?” Tanyaku sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana. Ia menoleh dan menatapku tajam-tajam. Di keremangan lampu lima watt, nampak jelas sorot matanya menatap tajam ke wajahku. Ia seperti berusaha mengelupas kulit di wajahku, menikamkan kecurigaan dengan api sorot matanya.

Sesekali rokoknya diisapnya kuat-kuat lalu asapnya dihembuskan sembarangan ke wajahku. Kutarik nafas dalam-dalam, aku semakin tak mengerti tentang status lelaki ini.

“Dan kau sendiri?” Katanya tiba-tiba kepadaku dengan suara yang berat.

“Aku?”

“Ya, kamu”.

“Ah, aku sendiri hanya ingin duduk di sini. Tak lebih”.

“Hemm…kenapa memilih duduk di sini dan tidak di tempat lain saja?” Tanyanya ketus sambil memperbaiki letak duduknya. “Apa kau ingin mencari teman duduk atau ngobrol?” Lanjutnya dengan suara semakin datar.

“Benar. Aku memang membutuhkan seorang teman sekaligus kawan ngobrol untuk sekedar membunuh rasa sepi”, jawabku berbohong. Dan lelaki itu hanya diam saja tanpa reaksi sedikit pun. “Kebetulan aku sering melihat saudara duduk sendiri di tempat ini. Barangkali kita ada kesamaan”.

“Maksudmu, aku sedang kesepian?”

“Mungkin begitu”, jawabku sekenanya.

“Saudara jangan mengacau. Aku bukan tipe orang seperti yang anda sebutkan tadi, kesepian. Jangan samakan aku dengan anda. Dan lagi, aku paling tidak suka pada seseorang yang menaruh prasangka sekehendak hatinya”, kata lelaki itu dengan suara yang bergetar dan nadanya kurang menyukai basa-basiku. Sepertinya ia tersinggung dengan kata-kataku tadi.

“Maaf, aku sebenarnya ….”.

“Ya, aku tahu maksud saudara”, potongnya. “Aku sendiri melihat anda tidak hendak mengganggu ketenanganku. Aku lihat dari tutur kata dan gerak-gerik saudara. Baiklah, malam ini kita mulai menjadi kawan”, lanjutnya sambil menjabat tanganku kuat-kuat. Aku pun membalasnya. Ah, ternyata dengan kerendahan hati dapat juga meluluhkan lelaki ini yang sebelum kukenal wajahnya terlihat amat angkuh, egois, dan pendiam.

“Sudah beberapa hari ini aku melihat anda duduk sendiri di sini. Barangkali ada yang dicari atau dinanti di sekitar daerah ini?”

“Pertanyaan yang penuh kecurigaan”, jawabnya sinis sambil melemparkan sisa rokoknya.

“Tidak. Sama sekali tidak”, kataku sambil mencoba mengurangi suasana yang kaku dan kurang enak. “Sama sekali aku tidak mencurigaimu”, lanjutnya sambil kupegang lengan tangannya.

“Ya…ya…., aku tahu. Aku juga tidak menuduh anda begitu. Apalagi menuduh anda sebagai bagian dari siskamling di kampung ini. Tidak. Kuanggap anda sudah sebagai kawan, meski baru kenal beberapa waktu yang lalu. Maaf. Aku sebenarnya ingin juga meminta pendapat anda sebagai kawan. Biasanya kawan selalu siap memberikan pertolongan atau saran jika diminta. Bagaimana?”

Ada kesan suasana sudah mulai cair. Nada suaranya sudah datar dan sedikit agak bercanda. Aku mencoba menatap wajahnya yang bertopi itu. Ia tertunduk.

“Langsung saja. Saran apa yang harus kuberikan?”

“Hei, kita harus ingat kalau segala persoalan itu harus diurut secara teratur dan sistematis, biar nantinya bisa jelas dan lancar”, suara lelaki itu sedikit serak dengan nada menasehati.

“Oke, kalau itu memang keinginan anda”.

“Hemmm, begini”. Ia terdiam sejenak, sepertinya ada beban berat yang tak ingin disampaikan kepadaku. “Saya punya istri sedang hamil lebih delapan bulan”, ucapnya pelan sambil menengadah ke langit. “Anda tentu sudah mahfum kalau wanita yang sedang hamil selalu mempunyai permintaan yang aneh-aneh”.

“Ngidam maksudmu?”

“Ya. Dan yang aneh istriku tidak mengidam seperti wanita hamil lainnya yang minta buah-buahan atau makanan lainnya. Istriku hanya punya keinginan supaya saya mau melepaskan topi yang saya pakai ini”, katanya dengan sedih sambil menunjukan ke arah topi yang ia pakai. “Sebenarnya istriku sudah meminta hal ini sejak kandungannya berumur dua bulan. Tapi aku masih pikir-pikir untuk melepaskan topi ini dan sebisa mungkin aku akan mempertahankan topi yang saya pakai ini. Topi ini punya sejarah panjang dalam hidupku”, sambungnya lagi sembari menyalakan sebatang rokok.

“Ohhh, begitu. Kenapa tidak dituruti saja permintaan istrimu itu? Kukira topi yang anda pakai tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam kehidupan sehari-harimu. Topi hanyalah sebuah benda penangkal terik matahari, titik. Jadi kukira pakai topi atau tidak sama saja. Anak yang ada dalam kandungan istrimu tentu lebih penting dibanding topi itu”, kataku sedikit menasehati dan sekaligus permohonan agar keinginan istrinya didahulukan dari pada mempertahankan topi yang tak jelas manfaatnya.

“Jangan sok tahu. Ini masalah prinsip dan sekaligus menyangkut identitas diri. Anda tahu, aku memakai topi ini sudah lebih dua puluh tahun lamanya dan aku amat sangat mencintai topi ini. Inilah identitasku”.

“Tetapi semuanya kan demi istri dan anak yang ada dalam kandungannya. Kenapa anda begitu sampai hati terhadap istri? Kenapa hanya masalah topi atau identitas, anda harus egois terhadap istri? Kenapa…..”.

“Cukup!” Ia memotong ucapanku dengan sedikit membentak. Aku terkejut melihat perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu. Lalu lelaki itu berdiri, berkecak pinggang, dan dimasukan tangan kanannya di saku celananya. Sebentar kemudian ia nampak menarik nafas dalam-dalam. Aku hanya mampu tertunduk menyesali apa yang sudah kuucapkan tadi.

Ketika aku mendongakan kepala, lelaki itu sudah pergi ke arah selatan. Makin lama makin jauh dan akhirnya lenyap di tikungan jalan.

Dua malam berikutnya aku menjumpai lelaki itu duduk sendiri dan tak memakai topi. Akhirnya mau juga ia melepaskan topinya, pikirku. Ketika aku mendekat dan duduk di sampingnya, ia tak bereaksi sedikit pun. Sementara di lantai dekatnya duduk, berserakan putung-putung rokok. Ia nampak gelisah dan merokok tak putus-putus. Sekilas wajahnya nampak murung.

“Anda lihat kalau malam ini aku tak memakai topi”, ucapnya agak gemetar. “Topi itu telah kukubur bersama istri dan anakku. Istriku meninggal saat melahirkan dan bayinya menyusul beberapa menit kemudian. Istriku mengalami pendarahan yang hebat saat aku pulang dari sini beberapa malam lalu”, katanya lagi dengan sedih dan gemetaran.

“Ahhh!”. Hanya itu yang sempat keluar dari bibirku. Dan lelaki itu pun beranjak pergi entah ke mana. Sementara gerimis mulai turun. Malam semakin dingin dan sepi, seperti lelaki aneh itu yang hilang ditelan malam.

Jogja, 1983

I B U

Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Parto telah bangun. Ia menggeliat sebentar lalu ditatap wajah ibunya, nampak masih nyenyak benar tidurnya. Parto tidak segera beranjak dari situ. Ia duduk sambil melayangkan pikirannya.

Memang, pagi ini tidak seperti biasanya. Dan sudah menajdi kebiasaannya, ibu pasti bangun lebih pagi daripada Parto. Tapi pagi ini ibu nyenyak sekali tidurnya. Mungkin tadi malam ibu tidur sampai larut, pikir Parto. Sedangkan ia sendiri sudah tidur usai warta berita di radio jam tujuh.

Sekarang jam berapa ya? Parto bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa radio milik pak Dullah belum dibunyikan. Masih dingin dan lembab hawanya, sedangkan di luar masih nampak gelap. Mungkin baru jam empat, pikir Parto. Lalu ia berdiri. Disingkapnya pintu yang terbuat dari kardus bekas. Ia keluar.

Ditatapnya langit. Mendung. Di sebelah timur ada sedikit gumpalan awan memutih. Kedua tangannya masih rapat-rapat dilipat di atas dadanya. Udara kota Jogja memang cukup dingin pagi ini.

Parto berjalan menuju sungai yang tak jauh dari rumah kardusnya yang ia huni. Suasana masih sepi, belum ada penduduk sekitar tepian sungai itu yang bangun. Warga tepian sungai Code ini memang kebanyakan bekerja malam hari. Ada yang sebagai tukang becak, pelacur, pemungut putung rokok, pemungut barang-barang bekas dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan yang memungkinkan dapat menghasilkan sesuap nasi untuk penyambung hidupnya.

Dibasuhnya seluruh wajahnya dengan air Code yang dingin dan mengalir tenang. Air yang mengalir tak begitu deras, memang agak mengering. Ia memang berniat hanya cuci muka pagi ini, udara terlalu dingin. Kemudian ditinggalkannya tempat itu dan kembali menuju rumah kardusnya, yang mirip dengan gubug. Disingkap pintunya perlahan, nampak di atas tikar usang dan robek ibunya masih nyenyak tidur. Parto tak tega membangunkannya. Ah, mungkin ibu sedang bermimpi bertemu dengan bapak, pikirnya. Bapaknya yang meninggal pada zaman pemberontakan dulu. Bapaknya sebagai petani yang tak tahu apa-apa, tiba-tiba disiksa, dianiaya oleh gerombolan. Sayang waktu itu Parto masih kecil sehingga tak mampu membela bapaknya dari kekejaman gerombolan. Kata ibu, waktu bapaknya meninggal dulu, Parto baru berumur delapan bulan. Ia merupakan bayi mungil yang menawan. Begitu cerita ibu ketika itu sambil terisak-isak mengingat masa lalu. Sekarang, ibunya masih tidur nyenyak, diiringi dengkuran-dengkuran halus.

Parto membenahi peralatan kerjanya. Dua kaleng semir ditatanya dengan rapi di pojok kotak, juga lap dan sikatnya. Berulangkali kotak kotak kayu yang tak begitu besar itu ditatapnya. Kau penyambung hidupku, kata Parto dalam hatinya. Tanpamu mungkin aku dan ibuku akan mati kelaparan, katanya lagi dalam hatinya. Dielusnya kotak itu dengan perasaan sayang. Ditatapnya dengan sendu.

Ibunya masih tidur, Parto perlahan-lahan keluar. Ketika akan melangkah ia berbalik lagi, disingkap kembali pintu yang terbuat dari kardus itu. Ia pandangi kembali wajah ibunya yang masih lelap. Ia belum beranjak dari pintu. Dipandanginya kembali wajah ibunya, sebuah wajah yang tulus dan selalu memberinya kasih sayang. Ibunya adalah teman satu-satunya yang paling disayang. Ia teman bermain, bercerita, berbagi sedih, merangkai hidup sehari-hari, juga sebagai ibu yang sangat dicintainya.

Dengan hati yang kurang tenang, Parto melangkah meninggalkan rumahnya. Pikirannya masih mengingat ke rumah dan ibunya. Biasanya kalau akan berangkat, Parto pasti berpamitan dan mencium tangan ibunya. Lalu ibunya akan memberi sedikit nasihat. Tapi pagi ini tidak.

“Hai… tukang semir, pagi benar kamu berangkat!” teriak Sumi tetangganya yang tiap malam kerjanya menjadi tukang pijat itu. Parto menoleh. Sumi masih duduk dengan tenang sambil sesekali menyedot rokok kreteknya. Saat Parto lewat di depannya, Sumi tersenyum-senyum simpul.

“Mari mbak Sumi”, kata Parto santun sambil berlalu di depannya. Sumi hanya mengangguk-angguk dan tersenyum.

Jalan Malioboro telah ia lewati kemudian ia memasuki stasiun Tugu tempat biasa ia mangkal sebagai tukang semir sepatu. Suasana stasiun pagi itu sudah agak ramai. Pedagang makanan dan minuman sudah berderet rapi di pelataran ruang tunggu. Parto berusaha mencari-cari tempat kosong di dekat peron. Lalu ia duduk dekat penjual rokok, temannya yang telah lama saling kenal dan akrab.

“tumben To, pagi benar kamu datang”, tanya Kasmin.

“Iya..ya.., saya sendiri juga enggak tahu bisa rajin datang pagi-pagi begini. Mungkin ada rejeki yang memanggilku di stasiun ini”, jawab Parto sekenanya karena memang barusan Parto pergi ke stasiun agak pagi kali ini.

“Semoga saja rejeki banyak datang, To”, sambut Kasmin sambil melayani pembeli rokok eceran.

“Atau mungkin ada sejumlah gerbong kereta datang yang berisi uang semuanya. Lalu dari salah satu gerbong itu keluar seorang dermawan dan membagi-bagikan uang”, khayal Parto sambil matanya memandang langit-langit ruang tunggu stasiun itu.

“Kalau itu terjadi, aku akan makan di restoran sebelah sana dan memesan masakan yang istimewa”, sambut Kasmin. Lalu keduanya tertawa. Dua anak lelaki itu memang sering bercanda, juga angan-angannya yang nampaknya sangat sulit untuk ia jangkau.

Jam di stasiun menunjukan pukul dua lebih. Parto masih menghitung-hitung uang yang ia dapat sesiang itu. Lumayan juga, gumam Parto. Ia menyisihkan sedikit uangnya untuk makan siang, karena perutnya sudah tak mau lagi diajak kompromi. Parto segera bergegas menuju warung bu Menik. Di situ Parto makan dengan lahapnya. Perutnya betul-betul kosong dan bu Menik hanya tersenyum-senyum melihat Parto yang tak sabaran lagi menghabisi isi piring. Warung kecil di sudut stasiun memang sudah menajdi langganan Parto. Kalau Parto sedang tak punya uang, bu Menik memberinya keringanan dengan membayar keesokan harinya atau sampai Parto punya uang.

“Hari ini dapat banyak rejeki, To?” tanya bu Menik.

“Lumayan, bu”, jawabnya sambil masih asyik mengunyah potongan tempe. “Hari ini bayar kontan”, lanjutnya sambil tersenyum kepada bu Menik.

Lonceng di stasiun berbunyi. Sebentar lagi tentu akan ada kereta masuk stasiun, pikir Parto. Tak lama kemudian dari pengeras suara terdengar penyampaian dari petugas informasi, “Kereta jurusan Solo Balapan menuju Pasar Senen segera masuk di lintasan dua”. Selang beberapa waktu kemudian kereta berloko warna biru memasuki stasiun Tugu.

Parto masih duduk di warung bu Menik. Para penumpang dari stasiun Tugu yang akan ke Jakarta cukup banyak. Di pintu-pintu gerbong para penumpang berdesak-desakan. Parto hanya termenung melihat itu semuanya. Akan ke Jakarta mereka, kata Parto dalam hati. Jakarta mungkin ramai, batinnya lagi.

Sambil masih duduk, Parto membayangkan kota Jakarta yang banyak ia dengar dari mbak Sumi atau pun Kasmin. Mbak Sumi pernah tinggal di Jakarta selama dua bulan ikut pamannya di sana. Pamannya itu tinggal di daerah Karamat Tunggak. Kata mbak Sumi, Kramat Tunggak sangat ramai dan banyak hiburan.

Tiba-tiba ada pengumuman yang membuyarkan lamunan Parto, “Bagi para penumpang jurusan Pasar Senen harap bersabar sebentar dan menunggu berita dari stasiun Purwokerto. Sebab di daerah sekitar Purwokerto ada kereta yang keluar dari rel dan sementara dalam perbaikan”.

“Ini baru namanya rejeki”, kata Parto lirih sambil tersenyum-senyum. Setelah membayar kepada bu Menik, Parto beranjak dari warung itu kemudian pergi menuju gerbong kereta penumpang Solo Balapan – Pasar Senen. Lalu ia menawarkan jasanya di himpitan para penumpang, “Semir pak, semir om?!”

Hampir satu setengah jam, Parto melompat dari gerbong paling depan. Peluhnya mengalir deras. Hari ini memang rejekai sedang berada di tangan Parto. Ia mendapatkan uang lumayan banyak hanya dari rangkaian gerbong kereta yang menunggu jadwal pemberangkatannya itu. Lalu ia duduk sebentar menghilangkan lelah. Tak lama kemudian ia berjalan menuju warung bu Menik. Ia melihat jam dinding stasiun dari kejauhan, sudah menunjuk ke angka lima.

“Bu, minta nasi sayur pakai telor setengah”, pinta Parto sambil bersiul-siul kecil. “Oo iya, dibungkus lo bu”.

“Wah…tumben To, buat siapa nich?”

“Buat ibu”, jawab Parto singkat.

Parto keluar dari halaman stasiun sambil menenteng kantong plastik yang berisi sebungkus nasi. Wajahnya nampak lelah, tapi matanya berbinar-binar. Itu menandakan ada kegembiraan di hatinya. Ditatapnya langit, cerah sekali. Senja pun mulai menyungkup kota. Lampu-lampu sepanjang jalan sudah mulai menyala. Langkah Parto semakin dipercepat sambil menyenandungkan lirih lagu “cubit-cubitan”.

“Banjir! Banjir! Kali Code Banjir…!” teriak tukang becak ketika Parto sudah berada di ujung jalan Malioboro. Ia tak percaya, mana mungkin udara cerah begini sungai Code akan banjir. Tadi pagi saja sungainya agak mengering. Ketika sampai di dekat kerumunan orang, Parto berhenti sebentar mendengarkan orang-orang yang ramai membicarakan banjir sungai Code.

“Dari mana datangnya air ini ya?”, tanya orang yang memakai topi merah.

“Menurut kabar datangnya dari lereng gunung Merapi. Di sana hujan sangat lebat. Jadi air ini kiriman dari sana”, jawab lelaki yang berjaket biru dan berpenampilan seperti wartawan.

Mendengar itu, Parto segera berlari menuju rumahnya. Kira-kira dua ratus meter sebelum jembatan, air sudah menggenangi jalanan yang tingginya hampir selutut anak-anak. Bingung. Ia memikirkan nasib ibunya yang saat ditinggalkan masih tidur nyenyak. Ia melihat sungai Code telah meluap. Kardus-kardus, seng, bermacam-macam kayu, semuanya terbawa arus air.

Suara jeritan di mana-mana memanggil anaknya, ibunya, bapaknya, dan banyak lagi jeritan yang memilukan. Parto masih berdiri bingung. Kantong plastik yang berisi sebungkus nasi masih erat-erat dipegangnya. Dari jauh ia mencoba mencari lokasi rumahnya di bantaran sungai, tapi tak nampak lagi. Hanya air berwarna coklat kehitam-hitaman yang mengalir sangat deras.

“Ibu…! Ibu…..!” Parto menjerit sekuat tenaga. “Bu…ini kubelikan nasi, bu”. Parto berteriak keras seperti kehabisan akal. Air matanya mulai meleleh membasahi pipinya.

Tidak jauh dari tempat Parto berdiri, beberapa orang berbaju hijau mondar-mandir menolong orang-orang yang hanyut. Tentara-tentara itu nampak sibuk menuju tenda darurat yang nampak sudah berdiri. Parto mendekati posko, siapa tahu ibunya ada di situ. Ia melihat lelaki tua yang sudah kaku membiru diangkat dua orang menuju posko. Tapi dua tangan lelaki tua itu nampak mendekap erat radio transistor kecil. Bukankah itu pak Dullah, pikir Parto. Lalu didekatinya lelaki itu.

“Pak Dullah….., pak Dullah, dimana ibu Parto?” tanya Parto sambil menggoyang-goyang tubuh pak Dullah. Lelaki tua itu diam kaku dengan mata masih terpejam. Parto kembali menggoyang-goyang tubuh dingin pak Dullah, tapi nampak pak Dullah terbujur kaku.

“Minggir! Minggiiirrrr! Ayo bapak-bapak coba minggir dulu!” kata para relawan sambil menyibak kerumunan orang. Seorang wanita separuh baya yang sudah menjadi mayat diangkat masuk posko. Parto berusaha menyusupkan kepalanya di antara kerumunan orang untuk melihat korban yang ditemukan. Ibunyakah itu? Tanya Parto dalam hatinya. Tubuh wanita itu sudah lebam-lebam dan wajahnya sudah rusak. Wanita yang terbujur kaku itu masih memakai kain dan kebaya warna merah pudar yang sudah robek-robek. Kata beberapa penolong, wanita itu hanyut di antara kayu, seng dan kardus-kardus.

“Ibuu…! Ibuuuu…”, jerit Parto sambil mencoba mendekap wanita yang sudah menjadi mayat itu. Parto menangis sekuat-kuatnya. “Bu, ini Parto bu, anakmu. Jangan tinggalkan Parto sendiri, bu”, ucapnya sambil tetap menangis tersedu-sedu. Nasi bungkus yang berada di kantong plastik hitam masih digenggamnya erat-erat.

“To.., Parto..”, suara lembut tiba-tiba menyadarkan Parto. Ia menoleh ke belakang. Ia melihat wanita paruh baya tersenyum. Ibunya, pikir Parto reflek. Parto hampir tak percaya kalau ibunya tak cepat merangkul.

“Bu…, ibu selamat?” jerit Parto dalam dekapan ibunya.

“Betul to. Tadi waktu banjir tiba-tiba datang, ibu sedang ke pasar”, kata ibunya sambil menenangkan hati anaknya. Pipi yang mulai keriput mulai basah oleh air mata. Parto dan ibunya masih berangkulan. Sebungkus nasi yang tergenggam di tangan Parto terlepas tak dihiraukan lagi. Ia masih mendekap erat ibunya. Saat terdorong oleh kerumunan orang, Parto hampir jatuh. Ia melihat sebungkus nasi di kantong plastik hanyut terbawa air, entah ke mana.

Jogja, 1985

RATIH

“Hampir dua puluh tahun kita berpisah. Cukup lama kan?”

“Ya, cukup lama. Alangkah cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin kita sama-sama lulus SMA. Sekarang…”

“Sekarang kau sudah jadi publik figur, selebriti, tenar dan punya harta berlimpah. Sedangklan aku, akhhh…nasibku tak berubah banyak”.

Barangkali senyumku getir. Terbukti bibirku terasa begitu kaku ketika kulempar senyum kepadanya. Lalu mata yang bak kejora itu, masih tetap memandangku, penuh harapan dan kerinduan.

“Aku maklum, banyak wartawan datang ke sini untuk mewawancaraimu. Tapi maksudku bukan itu. Aku hanyalah penulis freelance saja. Aku menemuimu hanya sekedar ingin ngobrol sembari melepas kerinduan. Hanya sekedar ingin mengenang masa silam, masa sekolah yang begitu indah. Itu saja. Hasratku untuk menjumpaimu begitu besar dan cukup menyesakan dadaku beberapa tahun belakangan ini. Selama ini aku hanya bisa melihatmu lewat televisi, koran, dan majalah-majalah. Kutahan keinginan menemuimu yang bergejolak itu. Terus terang saja, aku was-was kau tak pernah ingat lagi padaku. Umumnya orang yang sudah dikagumi dan menjadi bintang sinetron atau iklan, mudah lupa. Bahkan tidak mau mengakui kawan lamanya lagi”, alasanku panjang lebar coba kusampaikan padanya.

“Kau terlalu berprasangka, To. Aku tidaklah seburuk tulisan wartawan-wartawan yang senang menggosipkan orang itu, yang dengan seenaknya mengatakan aku sombong, egois, senang merebut lelaki milik wanita lain, dan sebagainya…dan sebagainya. Yach, beginilah kalau hidup menjanda. Sering kena fitnah”, ucapnya lemah.

Yach, beginilah kalau hidup menjanda, kuucapkan ulang dalam hati. Akhhh…tak perlu heran kalau artis sering ganti-ganti pasangan hidup, ejekku dalam hati. Ruangan sunyi, kami membisu.

Sore yang sejuk dengan angin semilir dan sisa-sisa sinar mentari memancar lembut lewat ventilasi jendela dan pintu yang sedikit terkuak. Anak-anak rambut Ratih yang menjuntai di keningnya berayun lembut oleh semilir angin. Ratih menyulut sebatang marlboro, menawarkan rokoknya padaku.

“Aku tak merokok”, halus kutolak.

“Banci?”

“Bukan. Sekedar membiasakan diri agar dapur tetap mengepul dengan teratur”.

Kuteguk sisa air jeruk yang terhidang di meja. Pandangan mataku berkeliling. Rumah ini meskipun mungil tapi sangat mewah. Perabotnya serba luks dan modern, berkombinasi dengan lampu kristal dan barang-barang yang antik. Sungguh serasi. Sayang rumah sebagus ini hanya berpenghuni seorang.

Di dekat teras rumah tampak dua mobil terparkir. Yang satu merk toyota alphard warna hitam dan satunya lagi honda jazz warna biru. Sahabatku yang satu ini benar-benar sudah makmur. Tak ingin aku berpikir bahwa aku iri hati padanya.

Ingat masa silam, aku terlena. Wahai, eloknya masa muda. Dulu, ya dulu, aku pernah amat sangat terpesona pada perempuan yang ada di hadapanku ini, sewaktu kami masih sama-sama menuntut ilmu di sesebuah SMA di Jogja. Namun sekarang, ya sekarang, tak tahulah, apakah aku masih mencintai dan terpesona amat sangat atau tidak. Yang jelas, kendati pun aku sudah beristri dan dikaruniai dua orang anak, kenadati ia sudah menjadi artis terkenal dan hidup menjanda, aku masih saja merindukan dan mengenangnya. Terkadang dia hadir dalam mimpi-mimpiku.

Dan saat ini, sore ini, di ruang tamu yang sejuk dan harum, hutang rinduku impaslah sudah.

“Astanto? Kau melamun?” Terdengar suara Ratih yang lembut. Aku terhenyak. Cepat-cepat kukuasai lagi diriku.

“Ya, aku melamunkan suka duka kita bersama dulu, saat-saat yang penuh keceriaan. Kau masih ingat, Ratih?” Ucapku sedikit gugup.

“Ingat apa?” Pandangannya menembus jantungku, bagai pisau tajam perlahan-lahan menusuk tengah dadaku.

“Jangan bego. Kau sudah lupa waktu kita berdua-duaan di kelas kosong. Kemudian dilihat oleh pak Bur si penjaga sekolah yang sudah pikun itu, lalu kita beri ia uang tutup mulut sebanyak lima ratus perak supaya tidak melapor kepada wali kelas kita yang galak itu”, kataku. Ratih ketawa terbahak-bahak, sedang aku hanya senyum dikulum saja.

“Ohh, tentu saja aku masih ingat peristiwa itu. Bahkan aku masih ingat ketika kita dihukum berdiri di depan kelas karena tidak menyelesaikan tugas matematika yang bikin kepala berdenyut-denyut. Aku masih ingat kawan-kawan kita yang cerewet, yang badung, atau yang baik hati, bahkan teman-teman yang suka mencemburui kita”.

“Baik. Baik, ternyata ingatanmu masih sempurna, Ratih. Lalu mengapa waktu kita telah lulus SMA dan kau pindah ke Jakarta, kau tak pernah memberikan alamatmu. Kau tak mau menghubungiku lagi. Sampai lima tahun kemudian engkau muncul sebagai artis sinetron pendatang baru yang menarik perhatian publik. Nasibmu memang beruntung”, ucapku tertekan.

“Sengaja aku berbuat demikian untuk menghindarimu. Kalau aku harus jujur, aku jatuh cinta pada seorang pengusaha muda ketika aku dan keluarga sedang berlibur di Bogor. Kebetulan awal tahun itu juga ayahku tugasnya dipindahkan ke Jakarta. Lelaki yang pengusaha muda itu kemudian menjadi suamiku yang pertama, yang kemudian menceraikanku tak lama setelah putriku lahir. Hubungan kami memang kurang harmonis, karena ternyata aku dijadikan madunya”.

“Kau meremehkan aku?”

“Tidak. Kukira cinta kita dulu sebatas cinta monyet saja. Yah, cinta anak sekolahan yang sangat rapuh dan mudah bubar”.

Kemudian Ratih menceritakan bahwa orang tuanya juga masih tinggal di Jakarta ini. Anaknya juga dititipkan di sana. Ratih sengaja tinggal terpisah dari orang tuanya dengan alasan kegiatannya dalam pembuatan sinetron sangat ketat, belum lagi menjadi host di stasiun televisi swasta untuk acara tengah malam.

Ada kesunyian yang menghimpit di antara kami. Sekali-kali terdengar deru kendaraan di jalanan depan rumah Ratih.

Lagi-lagi pandangan kami beradu. Tatapannya agak ganjil kali ini, binal dan menantang. Beberapa detik kulawan sorot mata Ratih yang menghunjam itu. Bulu kudukku meremang. Sinar mata itu, nampak begitu haus kasih sayang dan kesepian!

“Jangan menatapku seperti itu, Ratih”, pintaku sambil memandanginya.

Ia kembalai menyulut sebatang marlboro. Dan kembali menatapku cukup lama. Pelan ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekatiku. Aku sadar apa yang akan dilakukannya.

Serta merta aku berdiri.

“Jangan Ratih, jangan!” Cegahku.

“Kenapa To? Tak akan ada orang yang tahu apa yang akan kita lakukan”, ucapnya sambil mengelus pundakku.

“Bukan begitu, Ratih. Ingatlah, aku sudah berkeluarga. Istriku teramat setia. Jangan kaupaksa aku untuk mengkhianatinya. Jangan juga kau buktikan padaku bahwa apa yang dikatakan wartawan-wartawan yang kau jelek-jelekan tadi itu benar. Kumohon padamu, Ratih. Kita sudah bukan lagi remaja atau usia anak sekolahan. Sadarlah, Ratih”.

Ratih menunduk di sampingku. Ketika tengadah, tampak dua sungai kecil mengalir di pipinya yang halus itu. Aku menunduk iba.

“Maafkan aku, To. Aku benar-benar kesepian. Tidak bahagia. Aku hampir gila”, suaranya bergetar sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Tak ada yang perlu dimaafkan, Ratih. Kita akan tetap bersahabat. Aku akan merasa bahagia jika kau bersuami lagi untuk yang terakhir kalinya dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku yakin, kau mampu berbuat itu”.

“Akan kucoba, akan kucoba sekuat hatiku”.

Lembayung mewarnai langit Jakarta saat aku pamit untuk pulang. Di pintu gerbang, sebelum kami berpisah, Ratih masih sempat berkata.

“Istrimu pasti cantik. Anak-anakmu pasti juga cakep-cakep seperti bapak dan ibunya. Iya ka?”

Aku tersenyum seraya mengangkat bahu.

“Well, tapi kau lebih cantik dan dewasa dibanding waktu di SMA dulu”, jawabku.

“Ooo…ya. Sampaikan salam untuk istri dan anak-anakmu. Sesekali ajaklah mereka ke Jakarta. Aku ingin mengenalnya”.

“Pasti, Ratih. Pasti”, ucapku sambil melambaikan tangan.

Senyum Ratih mengembang tapi terasa seperti lembab udara Jakarta yang menggelisahkan.

Parepare, 1992

POTRET TANPA BINGKAI

Awan hitam menggantung di langit. Angin bertiup cukup kencang, pohon-pohon jati bergoyang-goyang, hujan nampaknya sudah tak sabaran lagi akan segera turun. Anwar yang sudah bersiap-siap akan pulang, sesaat jadi ragu-ragu. Ia juga merasa tidak membawa jas hujan. Tapi bukankah bulan ini masih masuk musim kemarau? Sehingga ia tidak menyangka kalau tiba-tiba saja akan turun hujan. Sebab hari-hari terakhir udara kota ini panasnya sangat menyengat. Di luar dan di dalam rumah sama saja, panas, katanya dalam hati sambil mengeluarkan motor bebeknya yang masih terhitung baru.

Sebenarnya dalam hati Anwar merasa jengkel juga. Sebab hari ini kantornya pulang agak awal. Semua karyawan, termasuk dirinya merasa senang karena dapat pulang lebih awal. Hanya saja nampaknya hujan turun terasa sebagai penghalang. Sementara rintik-rintik gerimis mulai menyapa bumi, ia jadi tergesa-gesa untuk pulang.

Setelah membunyikan motornya, ia langsung meluncur ke jalan raya. Seorang temannya yang memanggil setengah berteriak karena ingin membonceng, tidak dihiraukannya. Kendaraannya pun semakin melaju dengan kencang. Menyalip kesana kemari di antara kendaraan lain yang nampaknya juga melaju cepat tergesa-gesa. Anwar ingin segera sampai di rumah sebelum hujan benar-benar turun. Tetapi ketika sampai setengah perjalanan, gerimis semakin deras turun.

Gas kendaraan semakin ditekan untuk menambah laju kendaraan. Gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras dan Anwar memacu kendaraannya semakin kencang dan seakan melayang di atas aspal jalanan. Padahal pandanganya agak kabur karena kaca helmnya memburam diterpa air hujan.

Ketika sampai di persimpangan jalan yang menuju ke rumahnya, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang melintas, menyeberang jalan dengan cepat. Anwar yang pandangannya ke depan agak kabur, hanya samar-samar saja melihat orang melintas di depannya. Namun ia terlambat untuk merem laju kendaraannya. Dan tanpa ampun lagu, wanita yang sedang menyeberang itu ditabraknya. Anwar terjatuh, sedangkan wanita itu terlempar sampai di sisi trotoar dan tergeletak. Nampak ada darah mengalir bersama air hujan yang menggenang.

Masih dengan yang tertutup, Anwar segera bangkit mendirikan kendaraan sambil berusaha membunyikan mesinnya. Lalu secepat kilat melaju dengan kencang meninggalkan tempat kejadian itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu berusaha mengejarnya, tapi motor Anwar melaju lebih cepat.

Anwar berpikir bila tertangkap, bisa saja dipukuli warga di sekitar itu dan juga urusannya semakin rumit dan panjang. Apalagi bila wanita itu meninggal dunia, wahhh…, pasti urusannya sampai di sel tahanan polisi untuk mempertanggungjawabkannya. Tepat, kalau aku melarikan diri saja, kata Anwar dalam hatinya.

Tetapi di sisi lain ada pemberontak di dalam hatinya dan mengutuknya sebagai lelaki pengecut. “Seharusnya kau tidak tinggalkan tempat kejadian itu, Anwar”, begitu suara dari dalam hatinya. “Seharusnya kau justru memberikan pertolongan, seharusnya kau merasa kasihan pada wanita muda yang telah kau tabrak tadi, seharusnya kau berusaha untuk segera membawanya ke rumah sakit agar jiwanya cepat tertolong dan terselamatkan”, begitu gemuruh suara di dalam hatinya. Seperti gemuruh suara hujan yang ditingkahi hembusan angin kencang.

Baju dan badan Anwar basah kuyup. Udara yang lembab menggigilkan tubuhnya yang dinginnya menembus tulangnya. Aneh, di dadanya tetap bergemuruh suara-suara yang mengejar dan menyalahkannya. “Kau pengecut, War”, suara hatinya kembali meletup-letup. “Kau telah jadi seorang penabrak lari yang kejam dan tidak berperikemanusiaan”. Anwar berusaha melawan kata hatinya. “Tidak! Aku pun harus selamat. Jika aku lama berada di situ dan berusaha menolongnya, pasti aku dikeroyok orang-orang itu, ditangkap polisi, diajukan ke pengadilan dan dihukum. Tidak! Aku juga harus selamat”, katanya setengah menjerit. Tapi gemuruh hujan dan sesekali suara petir menenggelamkan suaranya.

Setelah lelah melarikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, ia memperlambat lajunya. Saat ia menoleh ke belakang, suasana lalu lintas sudah sepi. Ia merasakan sudah tidak ada lagi yang membuntutinya. Waktu tadi lari dari tempat kejadian, ia sudah berusaha mengelabuhi para pengejarnya dengan melewati lorong-lorong kecil, sehingga para pengejarnya pasti akan kehilangan jejak.

Pikiran Anwar semakin bingung, meski pun ia sudah sekuat tenaga melupakan kejadian tadi. Bukankah sudah tidak ada yang mengejarnya ? Nomor kendaraan pun juga terlindung oleh kotoran karena jalanan yang berlumpur. Paling tidak itulah perkiraan Anwar. Dirinya sudah merasa aman, meskipun rasa was-was masih terus bergelayut di hatinya.

Sesaat kemudian hujan mulai reda. Cuaca sedikit cerah. Angin semilir yang bertiup terasa menyegarkan, debu-debu yang biasanya berterbangan luluh ke bumi menyatu dengan air hujan yang mulai menggenang di mana-mana.

Anwar pun membelokan kendaraannya dan melaju menuju arah rumahnya. Namun ketika sampai di depan rumahnya, ia terkejut karena di teras rumahnya sudah dipenuhi orang. Hatinya terkesiap, mukanya semakin memucat. Pasti tingkah lakunya sebagai penabrak lari sudah diketahui polisi dan orang-orang di tempat kejadian tadi, katanya dalam hati. Tetapi mau berbalik, ia tidak berani karena para tetangga sudah melihatnya. Akhirnya ia pasrah saja dan memarkir kendaraannya di bawah pohon mangga di pelataran rumahnya. Ibunya yang mengetahui kedatangannya, langsung berlari ke arahnya dan menubruk serta merangkulnya. Sementara di teras rumahnya nampak beberapa polisi lalu lintas. Anwar jadi tak berdaya, terasa sendi-sendinya seperti luluh.

“Dari mana saja kau, nak?” Tanya ibunya sambil menangis di bahunya. “Ada kejadian di keluarga kita”, lanjut ibunya menarik lengan Anwar untuk masuk ke rumah.

“Saya sudah tahu, bu. Saya memang akan menyerahkan diri”, ucap Anwar terbata-bata.

“Apa maksudmu?” Tanya ibunya heran. Untuk sesaat Anwar tertegun. Bukankah orang-orang di rumahnya sudah tahu jika ia telah menabrak seseorang? Bukankah para polisi dan tetangganya akan menangkapnya. Tetapi kenapa ibunya seperti heran. Ia jadi bingung.

“Kau seperti orang bingung, nak. Baiklah, ibu akan sampaikan kejadian yang menimpa keluarga kita”.

“Tidak. Tak usah dilanjutkan, bu. Aku akan menyerahkan diri. Aku memang bersalah”, sahut Anwar cepat.

“Nak, apa maksudmu? Ibu jadi tak mengerti”, kata ibunya masih sesenggukan.

“Lalu maksud ibu?”

“Tentang adikmu”.

Anwar tertegun memandangi wajah ibunya. Sementara ibunya berusaha menguatkan gejolak perasaannya. Tetapi kekuatan dan ketabahan sebagai ibu, akhirnya ia menyampaikan dengan kalimat putus-putus kepada anaknya itu.

“Begini, nak. Adikmu si Jamilah….”.

“Jamilah kenapa, bu?” Potong Anwar.

“Dia meninggal, nak. Dia jadi korban tabrak lari”.

“Tabrak lari? Dimana, bu?” Tangan Anwar menggoyang-goyangkan bahu ibunya.

“Di persimpangan jalan dekat lapangan itu. Penabraknya seorang pemuda seusiamu, nak. Penabraknya tidak menolong adikmu, tapi lari dengan motornya entah kemana waktu hujan tadi”.

Setelah mengatakan semua kejadian itu, ibunya menangis histeris dan tak lama kemudian pingsan. Anwar masih berdiri tegak bagai batu karang. Orang-orang justru segera memapah ibunya dan membawanya ke dalam rumah.

Tubuh Anwar terasa menggigil dasyat. Di dalam dadanya gemuruh gelombang menghantam karang-karang hatinya secara bertubi-tubi. Batinnya terguncang. “Seandainya penabrak itu mau menolong, mungkin jiwa adikmu bisa diselamatkan”. Sederet kalimat itu mendengung terus menerus di telinganya.

Seluruh persendian tulang-tulangnya seperti tak berfungsi lagi. Mulutnya terasa kaku. Penyesalan yang datang sepertinya hambar tak ada lagi artinya. Air matanya meleleh di pipinya. Adikku, Jamilah, ucapnya berulang-ulang.

Ah, seandainya waktu dapat diputar kembali dan perjalanan hidup dapat diubah-ubah sekehendak hati.

Parepare, 1995.

DI TEPI PERJALANAN WAKTU PAK BEDDU

“Pak Beddu, selamat pagi!”

Selalu demikian murid-murid mengucapkan salam kepada pak guru Beddu. Dan selalu sama pula jawaban yang mereka terima adalah senyum kebapakan, lembut namun penuh wibawa. Sambil memperbaiki letak kaca mata tebalnya, pak guru Beddu mengerutkan kening sejenak sambil terus menjawab, “Oh…oh…, selamat pagi!”

Panas matahari meneteskan peluh di kening pak guru Beddu. Kerut-merut ketuaan di wajahnya tampak lebih jelas kini. Kira-kira sudah dua puluh lima tahun lebih pak guru Beddu selalu melewati jalan yang sama ketika pagi, saat ia harus berangkat mengajar, dan siang sepulang mengajar. Barangkali sudah ribuan kilometer ia berjalan melewati jalan itu selama dua puluh lima tahun. Melintasi jalan setapak, terjal berbukit, sejauh delapan kilometer lebih setiap hari. Tetapi pak guru Beddu masih bersemangat juga.

Dalam usianya yang lebih dari setengah abad ini pun, tak juga jera kakinya menapaki jalan itu setiap hari. Orangnya sendiri tak begitu menarik, namun murid-muridnya demikian mencintai dan hormat padanya. Bukan karena ia guru mereka, melainkan sikap dan tingkah lakunya yang selalu menyenangkan setiap muridnya. Sayang, ia telah demikian menua. Apalagi kini orang mulai mengatakan bahwa pak guru Beddu sudah sangat pelupa.

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Ooh…, selamat pagi”, jawabnya seperti biasa. Dan barangkali ia tak ingat lagi siapa yang menyalaminya, sebab orang-orang desa yang ia lewati memberikan salam yang sama pada pak guru tua itu. Dan mereka tahu, siapa pak guru Beddu. Guru dari anak-anak mereka atau bahkan bekas guru mereka. Guru SD yang telah rapuh dengan rambut memutih, tetapi menyenangkan dan suka membantu.

“Pak guru, saya belum bisa membayar tunggakan iuran sekolah yang tiga bulan itu”.

“Mengapa?”

“Ee…pak, emak saya sakit”.

“Bapakmu kerja apa, Mad?”

“Bapak…….. dulu tani, tapi hampir dua tahun meninggal. Sedang sawah kami sudah dijual untuk biaya pengobatan emak dan untuk makan kami selama ini”.

“Ohh…. lalu kamu tidak bekerja apa-apa?”

“Kadang-kadang mencarikan rumput untuk ternak tetangga…”

Sembilan tahun lalu peristiwa itu terjadi. Achmad, muridnya di kelas lima sudah tiga bulan tidak membayar iuran sekolah. Pak guru Beddu itulah yang menolongnya, sekaligus memberikan pekerjaan layak kepada Achmad sampai ia tamat SD. Ya, sembilan tahun yang lalu. Pak guru Beddu sudah melupakannya, namun orang-orang di desa itu tetap mengingatnya.

Ia seka sekali lagi peluh yang menetes di keningnya. Kacamata yang sudah kusam ia betulkan letaknya. Tangannya yang membawa buku-buku pelajaran mulai gemetaran. Baru dirasakan perutnya kini mulai lapar. Tetapi pikirannya masih saja menerawang pada kejadian tadi di sekolah tempat ia mengajar.

“Pak guru, saya bukannya keberatan kalau anak saya sekolah. Tapi pak guru tahu bahwa anak saya perempuan. Usia dia sudah cukup untuk kawin!”

“Pak Hasan, saya tahu maksud bapak. Hanya saja harap bapak mengerti bahwa Rusni masih kelas lima. Usia dia pun baru dua belas tahun, pak”.

“Lha… dua belas tahun, pak. Itu kan sudah saatnya!”

“Sudah saatnya kawin maksud pak Hasan?”

“Iya pak. Saya malu kalau nanti dikatakan orang kalau Rusni tak laku kawin”.

Dan guru Beddu tersenyum sejenak, “Pak Hasan, zaman sekarang lain dengan zaman dulu, apalagi sekarang pemerintah punya aturan wajib belajar. Bahkan sekarang usia perkawinan ada ketentuannya, pak”.

“Ah… pak guru jangan mengada-ada. Kawin kok ditentukan, itu kan lucu?”

“Ya, lucu. Bukan peraturannya yang lucu tapi pak Hasan”, seloroh pak guru Beddu tersenyum sekali lagi. Kali ini ia tersenyum sendiri.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Pak guru Beddu baru saja meletakan buku-bukunya di atas meja. Sejenak ia merenung, masih memikirkan kejadian tadi dengan pak Hasan. Apa yang harus diperbuat? Pak Zaid dan ibu Murni, teman gurunya, tak dapat berbuat banyak. Namun belum begitu lama ia berada di dekat meja buku, istrinya telah menyapa. “Pak, berasnya habis. Bapak nanti ambil singkong ya?!” Ya…ya…, pak Beddu baru ingat jatah berasnya bulan ini tak dapat dimakan semuanya karena sebagian lainnya rusak terkena air hujan. Dua minggu yang lalu, sepulang ia mengambil jatah beras di kota dan dalam perjalanan pulang terjadi hujan lebat di tengah jalan masuk ke arah desa, sebagian beras itu basah karena tak tertutup plastik. Setengah dipaksa, pak Beddu tersenyum. “Iya bu, sebentar kuambil di ladang”.

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Oh…selamat pagi!” jawabnya seperti biasa.

Sekolah yang hanya memiliki tiga orang guru itu lengang. Pagi itu ada perayaan di balai desa. Anak-anak didiknya hanya sebagian kecil saja yang masuk sekolah. Untuk urusan yang satu ini, pak Beddu tak pernah berhasil mengatasinya. Sama sekali ia tak dapat berbuat apa-apa. Dan kini ia duduk di kantor kecil dekat wc sekolah itu. Dua teman gurunya, ia beri tugas untuk mengajar seperti biasa. Sementara itu persiapan mengajar yang ia buat sampai larut malam, tak dapat dilaksanakan.

Tubuh tua itu tersandar di kursi. Kacamatanya diletakan di atas meja. Sedianya ia akan menyelesaikan tugas-tugas administrasi, namun ternyata ia lupa bahwa tak ada kertas lagi di kantor kecil itu. Tiba-tiba ia dengar ketukan di pintu. Pak guru Beddu cepat-cepat memakai kacamatanya dan kemudian beranjak dari kursinya.

“Selamat siang, pak guru!”

“Ohh…selamat siang. Mari-mari silakan duduk”, ucap pak guru Beddu ramah.

“Terima kasih pak, saya hanya sebentar. Ini ada surat panggilan dari Kecamatan untuk pak guru”.

“Panggilan apa?”

“Entahlah pak. Bapak baca sendiri suratnya. Kalau tidak salah, ditunggu siang ini juga”.

Pak guru Beddu memperbaiki letak kacamatanya. Ia memperhatikan surat itu dengan cermat, sampai tak mendengar saat pengantar surat itu berpamitan. Entah apa isi surat itu. Yang jelas pak guru Beddu tampak terkejut. Segera dibenahi buku-buku yang berserakan di atas meja, kemudian berpamitan kepada teman gurunya dan langsung pergi menuju Kecamatan.

Siang mengucurkan keringatnya. Pak guru Beddu pun makin berkeringat memikirkan surat panggilan itu. Banyak hal berkecamuk di dalam benaknya. Bagaimana tidak? Seorang guru tua dari daerah terpencil yang tidak pernah disapa oleh atasannya, tiba-tiba dipanggil ke Kecamatan untuk menghadap Kepala Dinas Pendidikan kabupaten.

“Selamat siang, pak guru!”

“Ohh…selamat siang, pak..”, jawab pak guru Beddu sambil membungkuk-bungkukan badannya untuk menghormati atasan yang memanggilnya.

“Silakan duduk pak Beddu”, ucap pak Camat yang duduk bersebelahan dengan beberapa orang yang berpakaian safari bagus dan rapi. Tiba-tiba hati kecil pak guru Beddu takut juga.

“Terima kasih, pak”, jawab pak guru Beddu hampir tak bersuara.

“Pak Beddu, bapak-bapak ini dari Kabupaten. Beliau akan meninjau kegiatan pendidikan di daerah kita. Kebetulan beliau ingin sekali berkenalan dengan pak Beddu”.

“Benar….benar…pak Beddu. Oh ya, pak Beddu sudah berapa tahun bertugas”, tanya yang rambutnya sedikit botak.

“Sudah kurang lebih dua puluh lima tahun, pak”.

“Wahhh…, lama juga. Sudah diangkat atau belum, pak?”, tanya yang bersafari abu-abu.

“Belum, pak. Hanya berkat kebijaksanaan pak Camat, saya menerima bantuan beras setiap bulan”, tutur pak guru Beddu.

“Ada berapa guru yang ada di sekolah bapak?”

“Hanya tiga orang pak, termasuk saya. Tetapi semua guru-gurunya hanya guru desa, pak. Maksud saya, sekolah kami hanya sekolah desa biasa. Guru-gurunya pun sebenarnya bukan guru yang layak dan pandai. Bekal kami hanya semangat dan keinginan untuk mengabdi, pak”.

“Kami sudah tahu itu, pak Beddu. Tadi kami pun sebenarnya ingin meninjau langsung ke sana. Hanya sayangnya, mobil kami tidak bisa masuk sampai ke desa bapak. Jadi ya… terpaksa hanya sampai di sini. Tapi saya percaya bahwa dari pertemuan kita ini, kami sudah bisa membuat laporan lengkap ke atasan”, ucap yang agak gemuk dan selalu merokok.

“Jangan khawatir, pak Beddu orangnya jujur dan memiliki pengabdian tinggi”, kata pak Camat sambil tersenyum.

“Pak Beddu, kedatangan kami kemari akan membantu bapak. Jelasnya, sekolah dimana pak Beddu mengajar, segera akan diperbaiki dengan dana APBD, yang akhirnya nanti SD itu akan menjadi SD Negeri. Begitu, pak Beddu”.

Mendadak pak guru Beddu merasa begitu gembira. Mata pak Beddu berkaca-kaca. Ia mengusap sedikit keringat melalui sela-sela kacamatanya. Senyumnya mengembang, muncul keharuan dalam hatinya. Terima kasih kepada bapak-bapak pejabat yang ada di depannya.

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Ohh…, selamat pagi!”

Satu bulan, dua bulan, empat bulan, enam bulan, berita itu ia tunggu-tunggu kelanjutannya, tapi belum juga tiba. Dan tepat pada awal bulan ketujuh, pak Beddu menerima surat panggilan lagi dari Kecamatan. Dan seperti enam bulan yang lalu, ia segera bergegas ke sana. Dengan penuh harap. pak Ramli mengahadap bapak-bapak dari Kabupaten. Namun yang hadir sekarang hanya dua orang saja.

“Seperti kami kemukakan beberapa bulan yang lalu, sekolah di mana bapak mengajar, ternyata berhasil kami perjuangkan. Akan tetapi pembiayaannya tak dapat sepenuhnya seperti yang kita harapkan. Oleh karena itu diharapkan adanya swadaya masyarakat juga”, kata bapak-bapak itu dari Kabupaten.

“Dan… oleh karena nanti menjadi SD Negeri, maka nantinya akan kami tempatkan guru-guru yang memiliki latar belakang ijazah keguruan di sana. Mereka nanti yang akan mengajar. Dan bagi guru-guru yang sudah ada tetapi tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan, sementara masih bisa membantu. Kira-kira demikian, pak Beddu”.

Ahh….dua puluh lima tahun pengabdiannya akan tidak ada artinya lagi. Tetapi pak Beddu rela dan ikhlas akan semuanya itu. Ia memahami apa yang diucapkan oleh para pejabat dari Kabupaten itu. Swadaya masyarakat, guru bantu sementara dan dirinya sendiri yang hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya dihadapan para pejabat itu, dan …….

“Pak Beddu, selamat pagi!”

“Ohh…., selamat pagi”.

Parepare, 1998

NYANYIAN DARI KAMPUNG NELAYAN

Aminah masih terduduk di samping rumahnya. Rambutnya yang panjang kadang digerai-geraikan angin pantai. Matanya yang bulat dan lebar itu menerawang lurus ke depan. Sesekali dipermainkannya sebutir kerikil lalu tak lama kemudian dilemparkannya ke jajaran pohon kelapa. Tapi dari sekian kali lemparan tak satu pun yang mengena. Lalu Aminah mencari beberapa butir kerikil dan dilemparkannya lagi ke jajaran pohon kelapa, lagi-lagi tak satu pun yang mengena. Ia tersenyum sendiri. Sesaat kemudian mengutuk dirinya sendiri karena lemparannya tak satu pun yang mampu mengena batang pohon kelapa, juga keluhan panjang sesekali keluar dari mulutnya.

Tak berapa lama, Aminah bangkit dari duduknya. Dari wajahnya nampak kekesalan atas kebodohannya itu. Ia melangkah menuju rumahnya.

Pintu belakang rumah berderak di buka Aminah.

“Kaukah itu, Aminah?” Suara serak dari dalam bilik mengejutkan langkah Aminah. Sejenak Aminah tertegun. Bola matanya yang bulat nanar memandangi sekeliling ruangan belakang, nampak mencari-cari sesuatu. Aminah masih terdiam dan tak segera menjawab pertanyaan dari dalam bilik tadi. Kemudia ia sedikit melompat ke sisi kanan. Dihampirinya meja kayuyang berbentuk bulat dan sudah agak rapuh itu, kemudian diambilnya sebilah pisau yang tergeletak di atas meja itu. Diusap berkali-kali bagian bibir pisau itu sambil tersenyum-senyum. Pisau yang sedikit berkarat itu ditimang-timangnya dengan tangan kanannya. Tak berapa lama diletakannya kembali pisau itu di atas meja. Aminah tersenyum memandangi pisau itu.

“Aminah! Aminah!” Suara dari dalam bilik kembali memanggil. Aminah terkejut dan pisau yang tergeletak di atas meja itu segera diraihnya lalu digenggamnya erat-erat, tangan yang menggenggam pisau disembunyikan di balik kain kebayanya. Matanya berbinar-binar memandangi arah bilik. Aminah kemudian mengendap-endap menuju bilik, arah suara yang memanggilnya tadi.

Dari celah-celah dinding bambu, Aminah berusaha mengintip ke dalam bilik. Pisaunya sekarang tak lagi disembunyikan di balik kain kebaya, tapi diselipkan di pinggangnya. Aminah kemudian menarik nafas dalam-dalam, wajahnya berubah tegang. Dan kemudian dari dalam bilik terdengar suara sandal yang diseret. Tak lama, dari pintu bilik muncul wajah wanita tua. Rambutnya yang hampir semuanya memutih serta badannya yang kurus terbungkuk-bungkuk, wanita tua itu berjalan perlahan sambil berpegangan dinding bambu.

Hanya beberapa langkah saja wanita tua itu berhenti. Ditatapnya Aminah yang berdiri di depannya tak seberapa jauh. Aminah tertunduk saat emaknya berusaha mendekatinya.

“Dari mana saja kau, nak?” Tanya emaknya dengan suara serak dan lemah. Aminah masih tertunduk tak menjawab. “Sudah makan, nak?” Tanya emaknya lagi. Aminah menggeleng pelan. Ditatapnya wajah anaknya itu dengan perasaan sedih. Tangannya yang kurus kering itu lalu mengelus rambut Aminah. Dan Aminah hanya diam tertunduk.

Emaknya sesaat kemudian berbalik kembali menuju bilik. Kepala Aminah bergerak perlahan menatap emaknya yang berjalan terseok-seok sambil senyum-senyum. Diambilnya pisau yang terselip di pinggangnya. Ditimang-timang, sesekali diusapnya pisau itu. Kelakuannya mirip seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya. Masih menimang-nimang pisau, Aminah berputar-putar sambil bersenandung dan sesekali tertawa sendiri.

“Ayo jangan main-main pisau, nak!” Suara emaknya yang tiba-tiba itu mengejutkan Aminah hingga pisaunya terjatuh dari tangannya. Ditatap emaknya dengan rasa benci. Bibirnya bergetar. Lalu tatapannya beralih ke pisau yang terjatuh di tanah. Aminah kemudian duduk bersimpuh di dekat pisau itu. Ia menangis terisak-isak. Pelan-pelan diambilnya pisau itu dengan rasa sayang. Diam-diam emaknya meneteskan air mata saat melihat tingkah anaknya itu. Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk memikul beban hidup ini, kata emaknya dalam hati. Dengan ujung bajunya, diusap perlahan air mata yang meleleh di pipinya yang keriput itu.

“Sudahlah nak. Ini emak bawakan makanan”, bujuk emaknya seraya menyodorkan sepiring nasi dan sepotong ikan asin.

“enggak mau. Aminah enggak mau makan, mak”, katanya sambil menangis terisak-isak. “Emak keterlaluan. Anakku telah emak jatuhkan. Emak telah menyakiti anakku!” Jerit Aminah berulang-ulang.

Emaknya diam saja. Ia tahu kelakuan anaknya itu. Emaknya juga harus banyak bersabar dan beristiqfar karena Aminah memang kurang waras. Semua itu disebabkan peristiwa secara bertubi-tubi menimpanya. Yang pertama karena kematian anaknya satu setengah bulan yang lalu, kemudian perceraian dengan suaminya, Sukri. Buruk benar nasibmu, nak, batin emaknya. Seluruh kampung nelayan sudah tahu kalau Aminah kurang waras semenjak ditinggal suaminya yang kawin lagi di Kalimantan. Padahal dulu Aminah salah satu kembang di kampung nelayan ini.

Lalu emaknya meletakan piring yang berisi nasi itu di dekat Aminah duduk. Wajah Aminah masih bersungut-sungut sambil sesekali terisak.

“Emak pergi dulu ya nak. Jaga rumah baik-baik, jangan pergi kemana-mana”, kata emaknya penuh kesabaran.

Aminah memandangi emaknya dengan perasaan kurang senang. Matanya melotot, pandangannya tajam mengikuti terus kepergian emaknya. Rambutnya yang panjang tergerai tak beraturan itu berulang kali digaruknya. Pisaunya masih dibelainya, sesekali dipermainkan dengan jemarinya yang kotor. Dipandanginya berulangkali pisau itu dengan senyum lalu diciumnya dengan penuh kasih.

Emaknya berjalan tertatih-tatih di atas pasir yang berkilat di bawah terik matahari. Diusap perlahan peluh yang mengalir kecil di dahinya.Ia terus berjalan mendekati kerumunan orang yang sedang menarik jala. Sesekali lidah ombak menyentuh mata kakinya. Dilihatnya beberapa anak kecil yang berada di dekat orang-orang yang sedang menarik jala itu berteriak kegirangan karena jala yang ditarik beberapa leleki itu sudah mendekati bibir pantai.

Emak Aminah berusaha mempercepat jalannya. Tak beberapa lama dua orang lelaki setengah umur mengangkat jala yang ditariknya tadi lalu melemparkannya ke atas pasir. Semua orang yang ada di situ segera berebutan membuka jala, memungiti ikan yang menggelepar tersangkut di rajutan jala. Suara ribut anak-anak kecil dan gemerencing jala membaur menajdi satu. sementara itu emaknya Aminah asyik mengkais-kais sampah yang terbawa jala itu. Beberapa ekor ikan kecil yang membaur dengan sampah dipungutinya satu persatu lalu dimasukan ke dalam baskom plastik kecil. Peluhnya yang meleleh di keningnya, diusap berkali-kali dengan lengan kirinya.

Dari kejauhan tiba-tiba terdengar orang berteriak-teriak dengan ocehan yang tidak jelas. Semua orang yang ada di sekitar itu berpaling ke arah suara. Emaknya Aminah tertegun melihat anaknya berlari-lari membawa membawa sebilah pisau menuju ke arah kerumunan orang yang sedang memunguti ikan dari jala.

“Mak, anak Aminah mati! Anak Aminah mati! Anak Aminah mati!” Teriak Aminah sambil mengacung-acungkan pisaunya. “Ini semua gara-gara emak. Emak telah menjatuhkan anak Aminah. Emak kejam …..kejam…!!” Teriaknya berulang kali setelah berada di dekat emaknya.

Orang-orang yang berada di situ hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Aminah. Mereka tahu kalau Aminah kurang waras. Sedangkan emaknya tidak mampu berkata-kata. Ia hanya tertegun memandangi anaknya.

“Mak, tolong bangunkan anakku”, rajuk Aminah sambil menyodorkan pisau kepada emaknya. Tapi emaknya malah menjerit dan mundur terhuyung beberapa langkah. Emaknya mengira Aminah hendak menusukan pisaunya. Empat lelaki yang ada di sekitar itu segera bergerak hendak menangkap Aminah. Saat melihat empat lelaki mendekat, Aminah segera lari. Keempat lelaki itu pun mengejarnya, tapi Aminah semakin cepat larinya menuju pantai, terus berlari agak ke tengah menerobos ombak dan akhirnya Aminah tergulung bersama ombak pantai selatan yang ganas itu.

Keempat lelaki yang mengejarnya terus berenang ke tengah lautan. Aminah tak nampak lagi. Ia terseret gelombang laut. Orang-orang yang berada di pinggir pantai berteriak-teriak minta tolong. Sementara emaknya tak mampu berbuat apa-apa. Menjerit pun tak bisa, seperti ada benda besar yang menyekat tenggorokannya.Air matanya mengucur deras. Hingga sesaat kemudian emaknya tersungkur di atas pasir tak sadarkan diri. Melihat hal itu, beberapa orang segera memberikan pertolongan. Orang-orang di sekitar perkampungan nelayan semakin lama semakin banyak yang berdatangan.

“Mungkin ratu pantai selatan sedang meminta korban”, kata laki-laki yang berbaju kotak-kotak biru.

“Bisa jadi begitu”, jawab lelaki lain yang hanya mengenakan sarung saja.

Dua hari telah lewat, Aminah belum juga ditemukan. Di samping rumah, di dekat jajaran pohon kelapa, emak Aminah duduk sendiri termenung. Terkadang menangis sesenggukan sendiri meratapi nasib anaknya. Rambutnya yang memutih dibiarkan tergerai dipermainkan angin pantai selatan. Debur ombak di kejauhan terdengar seperti rintihan Aminah yang memilukan.

Sementara itu orang-orang di perkampungan nelayan tak henti-hentinya membicarakan nasib Aminah. Aminah telah menjadi tumbal Nyi roro Kidul, ratunya pantai selatan, begitu kabar dari mulut ke mulut di kampung itu.

Dan di samping rumah, emaknya tak henti-hentinya menyebut asma Allah sambil terus menangis meratapi nasib anaknya, Aminah.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Violet Fans ©R.Design by M_uliah